Istilah Entrepreneurship pertama kali diperkenalkan oleh Richard Catilon (1755), berasal dari kata Entreprende
dalam bahasa perancis, yang secara harfiah berarti perantara. Awalnya
istilah ini digunakan untuk mereka yang membeli barang dan menjualnya
kembali dengan harga yang berbeda. istilah ini semakin populer setelah
digunakan oleh Jean Baptista Say (1803), seorang pakar ekonomi, untuk
menggambarkan para pengusaha yang mampu meningkatkan sumber daya
ekonomis dari tingkat produktifitas rendah ke tingkat produktifitas yang
lebih tinggi (Winardi, 2003). Pendapatnya erat terkait dengan banyaknya
penemuan baru yang mendukung produksi pada abad 18 tersebut, antara
lain penemuan mesin uap, mesin pemintal, dan sebagainya. Bersama dengan
waktu, semakin banyak ahli yang membahas kewirausahaan dari berbagai
sudut pandang dan mencetuskan definisi yang berbeda-beda tentang entrepreneurship. Beberapa definisi tersebut antara lain :
Richard Cantillon (1775) memahami
kewirausahaan secara klasik sebagai ‘bekerja sendiri (self-employment).
Seorang wirausaha membeli barang pada saat ini dengan harga tertentu dan
menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga yang tida menentu.
Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi
resiko atau ketidakpastian (Winardi, 2003).
Entrepreneurship Center at Miami
Universitas of Ohio mencetuskan pengertian kewirausahaan sebagai proses
mengindentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan.
Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, atau cara yang lebih
baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah
penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau
ketidakpastian.
Sementara itu, bapak manajemen modern, Peter F.Drucker mengemukakan pendapatnya tentang Entrpreneurship
sebagai kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
Pengertian ini mengandung maksud bahwa seseorang wirausaha adalah orang
yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, berbeda
dari yang lain. Atau mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang
sudah ada sebelumnya.
Senada dengan pendapat Drucker, Zimmerer mendefinisikan Entrepreneurship
sebagai suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan
persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha).
Begitu juga pendapat Robert D Hisrich & Michael P. Peter (2005), Entrepreneurship adalah
proses penciptaan sesuatu yang baru atau pemberian nilai baru dengan
menggunakan waktu dan upaya yang diperlukan, menanggung resiko keuangan,
fisik, serta resiko sosial yang mengiringi, menerima imbalan moneter
yang dihasilkan, serta kepuasan dan kebebasan pribadi. Tercakup
didalamnya adalah metode menstimulasi individu di dalam organisasi yang
mempunyai pemikiran bahwa dia dapat melakukan sesuatu dengan cara yang
berbeda dan dengan hasil yang lebih baik (Hisrich & Peters,
2005)
John Kao (1991:14) dalam Sudjana (2004:131) menyebutkan bahwa “Entrepreneurship
adalah sikap dan perilaku wirausaha”. Wirausaha ialah orang yang
inovatif, antisipatif, inisiatif, pengambil risiko dan berorientasi
laba. Ini berarti kewirausahaan merupakan sikap dan perilaku orang yang
inovatif, antisipatif, inisiatif, pengambil risiko dan berorientasi
laba.
Entrepreneurship adalah
semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha
atau kegiatan yang mengarah kepada upaya mencari, menciptakan,
menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan
efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau
memperoleh keuntungan yang lebih besar (Inpres No. 4 tahun 1995).
Kedua definisi tentang entrepreneurship
tadi nampak memiliki kesamaan, yakni tiga-tiganya mengemukakan adanya
sikap dan perilaku yang terkandung dalam kewirausahaan. Dari sini dapat
diketahui bahwa kewirausahaan pada dasarnya merupakan sikap dan perilaku
seseorang dalam melakukan suatu kegiatan. Kendati demikian, ada pakar
lain yang juga mengemukakan konsep kewirausahaan dilihat dari sisi yang
sedikit berbeda.
Winarto (2004:2-3) menyebutkan bahwa Entrepreneurship (kewirausahaan)
adalah suatu.proses melakukan sesuatu yang baru dan berbeda dengan
tujuan menciptakan kemakmuran bagi individu dan memberi nilai tambah
pada masyarakat. Sejalan dengan hal itu Hisrich-Peter (1995:10) dalam
Alma (2004:26) memaparkan:
“Entrepreneurship is the process of creating something different with value by devoting the necessary time and effort, assuming the accompanying financial, psychic, and social risk, and receiving the resulting rewards of monetary and p ersonal satisfaction and independence.”
Dengan kata lain entrepreneurship
digambarkan sebagai suatu proses menciptakan sesuatu yang lain dengan
menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan risiko serta menerima
balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi.
Berkaitan dengan itu, Suryana (2003:10) menerangkan bahwa istilah kewirausahaan dari terjemahan entrepreneurship, yang dapat diartikan sebagai ‘the backbone of economy’, yaitu syaraf pusat perekonomian atau sebagai ‘tailbone of economy’,
yaitu pengendali perekonomian suatu bangsa (Suharto Wirakusumo,
1997:1). Secara etimologi, kewirausahaan merupakan nilai yang
diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) atau suatu proses dalam mengerjakan suatu yang baru (creative) dan sesuatu yang berbeda (innovative).
Ada juga pendapat yang menitikberatkan
pada faktor manajemen dari kewirausahaan, sebagaimana dinyatakan oleh
Izedonmi and Okafor (2007) :
Entrepreneurship is a process of identification of a business opportunity in one’s immediate environment, combining together resources and establishing an enterprise for the production and distribution of product(s) or service that emanated from such process
Dari beberapa penjelasan yang telah disebutkan dapat diketahui bahwa, entrepreneurship
mempunyai lingkup yang cukup luas dan dinamis sifatnya. Adapun yang
menjadi titik berat dari definisi kewirausahaan yang telah disebutkan di
atas, ialah adanya proses dan sesuatu yang baru sebagai hasil
kreatifitas yang disertai dengan risiko tertentu.
Dengan demikian sebenarnya aktivitas kewirausahaan tidak hanya berada dalam tataran micro economy,
melainkan masuk juga sebagai pemain ekonomi makro. Dominasi aspek
ekonomi yang melekat pada aktivitas kewirausahaan nampaknya menjadi
salah satu penyebab beberapa pakar yang senantiasa mengaitkan
kewirausahaan dengan kegiatan usaha secara praktis dan pragmatis.
Sejauh ini, juga telah terdapat definisi mengenai entrepreneurship yang mepertimbangkan perspektif bisnis manajerial dan personal. Stevenson, Roberts, dan Grousbeck (1994) memandang entrepreneurship sebagai
suatu pendekatan manajemen dan mendefinisikannya sebagai “pengejaran
peluang tanpa memperhatikan sumber daya yang dikendalikan saat ini”.
Schraam (2006) mendefinisikan entrepreneurship sebagai proses
seseorang atau sekelompok orang memikul resiko ekonomi untuk menciptakan
organisasi baru yang akan mengeksploitasi teknologi baru atau proses
inovasi yang menghasilkan nilai untuk orang lain. Baringer&Ireland
(2008) medefinisikan entrepreneurship sebagai proses seorang individu mengejar peluang tanpa memperhatikan sumber daya yang dimiliki saat ini.
Hisrich, Peters, dan Shepherd (2008) memberikan definisi entrepreneurship sebagai “proses penciptaan kekayaan incremental. Karena entrepreneurship ditemui di semua profesi, definisi di atas dipandang terbatas. Hisrich et al (2008) memberikan definisi yang telah mengakomodir semua tipe perilaku entrepreneurship sebagai
“proses menciptakan sesuatu yang baru, yang bernilai, dengan
memanfaatkan usaha dan waktu yang diperlukan, dengan memperhatikan
resiko sosial, fisik, dan keuangan, dan menerima imbalan dalam bentuk
uang dan kepuasan personal serta independensi”.
Definisi entrepreneurship oleh Hisrich et al (2008) di atas menekankan empat aspek dasar bagi seorang entrepreneur, yakni (1) entrepreneurship melibatkan proses penciptaan, ialah menciptakan sesuatu yang baru. Penciptaan harus memiliki nilai baik untuk entrepreneur dan audiensnya. (2) entrepreneurship memerlukan waktu dan usaha. Hanya mereka yang melalui proses entrepreneurship menghargai waktu dan usaha yang mereka gunakan untuk menciptakan sesuatu yang baru. (3) entrepreneurship memiliki resiko tertentu. Resiko ini mengambil berbagai bentuk pada area keuangan, psikologi, dan social. (4) entrepreneurship melibatkan imbalan sebagai entrepreneur, imbalan yang paling penting adalah independensi, diikuti oleh kepuasan pribadi.
B. Karakteristik Entrepreneurship
Menurut Izedonmi dan Okafor (2007), individu berkarakteristik wirausaha memiliki kemampuan
untuk mengidentifikasi peluang dan menggerakkan sumber daya untuk
mencapaitujuannya. Menurut Koh (1996) sebagaimana dikutip dalam Izedonmi
dan Okafor (2007), karakteristik wirausaha diidentifikasi sebagai inti
utama perilaku dan kinerja seorang wirausaha.
Kedua pakar tersebut kemudian mencatat
pula beberapa pendapat para ahli terdahulu mengenai karakteristik yang
dimiliki oleh seoranng wirausaha, sebagai berikut:
1. Kebutuhan (motivasi) berprestasi (McClelland, 1961),
2. Lokus kendali (Rotter, 1966),
3. Pengambilan Risiko (Brockhaus, 1980),
4. Proaktif (Crant, 1996),
5. Toleransi terhadap ketidakpastian (Betaman and Grant, 1993), dan
6. Kreativitas (Drucker, 1985)
Peggy A Lambing & Charles R Kuehl (dalam Hendro dan Chandra, 2006) menyatakan bahwa setiap wirausahawan (entrepreneur) yang sukses memiliki empat unsur pokok, yaitu:
a. Kemampuan (hubungannya dengan IQ dan skill)
b. Keberanian (hubungannya dengan Emotional Quotient dan mental)
c. Keteguhan hati (hubungannya dengan motivasi diri)
d. Kreatifitas yang memerlukan sebuah
inspirasi sebagai cikal bakal ide untuk menemukan peluang berdasarkan
intuisi (hubungannya dengan experience).
Geoffrey G.Meredith et al (2002:5-6) mengemukakan daftar ciri-ciri dan sifat-sifat sebagai profil wirausaha sebagaimana tersusun dalam tabel II.2.b.
Tabel 1
Ciri-ciri dan Watak Entrepreneur
|
Ciri – Ciri |
Watak |
|
Percaya Diri |
Keyakinan, ketidaktergantungan, individualitas, optimis. |
|
Berorientasi pada tugas dan hasil |
Kebutuhan akan prestasi, berorientasi laba, ketekunan, ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, dan inisiatif. |
|
Pengambilan Resiko |
Kemampuan mengambil resiko, suka pada tantangan. |
|
Kepemimpinan |
Bertingkah laku sebagai pemimpin, mudah bergaul, menanggapi saran dan kritik. |
|
Keorisinilan |
Inovatif dan kreatif, fleksibel, mengetahui banyak. |
|
Orientasi masa depan |
Pandangan jauh ke depan. |
Sumber : Geoffrey G.Meredith at al, 2002:5-6.
Ciri-ciri entrepreneurship yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa intisari karakteristik seorang wirausaha ialah kreatifitas. Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa seorang wirausaha dapat dibentuk, bukan lahir begitu saja. Jelaslah bahwa kewirausahaan pada dasarnya merupakan jiwa dari seseorang yang diekspresikan melalui sikap dan perilaku yang kreatif dan inovatif untuk melakukan suatu kegiatan. Adapun orang yang memiliki jiwa tersebut tentu saja dapat melakukan kegiatan kewirausahaan atau menjadi pelaku kewirausahaan atau lebih dikenal dengan sebutan wirausaha (entrepreneur). Sebaliknya, yang tidak memiliki jiwa demikian tentu tidak bisa disebut sebagai wirausaha meskipun melakukan kegiatan bisnis.
Menurut Frederick et al (2006), 17 Karekteristik yang melekat pada diri entrepreneur adalah sebagai berikut :
- Komitmen total, determinasi dan keuletan hati
Entrepreneur adalah mereka yang memiliki
komitmen total dan determinasi untuk maju sehingga dapat mengatasi
berbagai hambatan. Kesulitan yang timbul tidak memadamkan semangat
entrepreneur untuk terus berkreasi dan berinovasi.
- Dorongan kuat untuk berprestasi
Entrepreneur adalah orang yang berani
memulai sendiri, tidak terlalu bergantung pada orang lain, yang
digerakkan oleh keinginan kuat untuk berkompetisi, melampaui standar
yang ada dan mencapai sasaran.
- Berorientasi pada kesempatan dan tujuan
Entrepreneur yang sukses adalah mereka
yang fokus pada peluang yang ada. Mereka memulai usaha dari peluang,
memanfaatkan sumber daya yang ada serta menerapkan struktur dan strategi
secara tepat. Mereka menetapkan standar yang tinggi untuk tujuan tetapi
masih dapat dicapai.
- Inisiatif dan tanggung jawab
Entrepreneur adalah pribadi yang
independen, bergantung pada dirinya sendiri dan secara aktif mengambil
inisiatif. Mereka suka mengambil inisiatif untuk memecahkan masalah.
- Pengambilan keputusan yang persisten
Entrepreneur adalah mereka yang tidak
mudah terintimidasi oleh situasi yang sulit. Mereka adalah pribadi yang
percaya diri dan optimis.
- Mencari umpan balik
Entrepreneur yang efektif adalah
pembelajar yang cepat. Tidak seperti kebanyakan orang, mereka memiliki
keinginan kuat untuk mengetahui bagaimana mereka bertindak dengan benar
dan memperbaiki kinerjanya. Umpan balik adalah sentral dari pembelajaran
seorang entrepreneur.
- Internal locus of control
Entrepreneur yang sukses meyakini diri
mereka sendiri. Mereka tidak percaya bahwa keberhasilan atau kegagalan
dipengaruhi oleh takdir, keberuntungan dan kekuatan serupa lainnya.
Mereka percaya bahwa pencapaian yang dipeloreh merupakan hasil
pengendalian dan pengaruh diri. Entrepreneur juga meyakini bahwa mereka
dapat mengendalikan lingkungan melalui berbagai aktivitas yang
dilakukan.
- Toleransi terhadap ambiguitas
Entrepreneur selalu menghadapi kondisi
ketidakpastian. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi yang
diperlukan untuk memetakan situasi. Entrepreneur dengan toleransi yang
tinggi terhadap ambiguitas akan menanggapi kondisi tersebut dengan
upaya-upaya terbaik untuk mengatasinya.
- Pengambilan resiko yang terkalkulasi
Entrepreneur bukanlah penjudi. Ketika
mereka terlibat dalam suatu bisnis, mereka telah memperhitungkan dengan
pemikiran yang matang. Mereka selalu menghindari untuk mengambil resiko
yang tidak perlu.
10. Integritas dan reliabilitas
Karakteristik ini merupakan kunci kesuksesan relasi antara pribadi dan bisnis yang membuat entrepreneur dapat bertahan lama.
11. Toleransi terhadap kegagalan
Kegagalan adalah hal yang biasa bagi
entrepreneur. Hal ini merupakan bagian dari pengalaman pembelajaran.
Entrepreneur yang efektif adalah mereka yang cukup realistis dalam
menghadapi kesulitan. Mereka tidak menjadi kecewa, terpukul atau depresi
ketika mengalami kegagalan. Sebaliknya, mereka terus mencari kesempatan
karena mereka menyadari bahwa banyak pelajaran yang dapat dipetik dari
kegagalan daripada keberhasilan.
12. Energi tingkat tinggi
Entrepreneur sering menghadapi beban
kerja yang berat dan tingkat stres yang tinggi. Hal ini merupakan hal
biasa. Entrepreneur selalu memiliki energi yang tinggi untuk
menghadapinya.
13. Kreatif dan Inovatif
Entrepreneur yang sukses adalah mereka
yang kreatif dan inovatif. Kreatifitas dapat dipelajari dan dilatih
serta merupakan kunci sukses dalam struktur ekonomi masa kini.
14. Visi
Entrepreneur mengetahui arah bisnis yang
akan dijalani. Visi dikembangkan sepanjang waktu yang menentukan
eksistensi bisnis mereka di masa depan.
15. Independen
Entrepreneur menginginkan kebebasan
dalam mengembangkan bisnis. Mereka tidak menginginkan birokrasi yang
membelenggu yang dapat menghambat aktivitasnya.
16. Percaya diri dan optimis.
Entrepreneur selalu menghadapi berbagai
tantangan tetapi hal itu tidak membuat, kehilangan kepercayaan diri dan
pesimis. Entrepreneur selalu percaya diri dan optimis bahwa mereka dapat
mengatasi berbagai kesulitan yang menghadang.
17. Membangun tim
Meskipun entrepreneur selalu
menginginkan otonomi tetapi tidak membatasi keinginannya untuk membangun
tim entrepreneurship yang kuat. Entrepreneur yang sukses membutuhkan
tim yang handal yang dapat menangani pertumbuhan dan perkembangan usaha.
Sementara itu, Barringer dan Ireland
(2008) mendeskripkan empat karakteristik utama yang dimiliki
entrepreneur sukses. Keempat karakter tersebut adalah :
- Hasrat yang kuat terhadap bisnis.
Karakteristik ini mendeskripsikan
kepercayaan entrepreneur bahwa bisnis secara positif akan mempengaruhi
kehidupan manusia dan menjadikan dunia lebih baik untuk ditinggali. Hal
ini juga menjelaskan mengapa banyak eksekutif yang telah mapan
meninggalkan pekerjaanya dan memulai bisnisnya sendiri.
- Fokus pada produk dan pelanggan.
Karakteristik ini menekankan betapa
pentingnya seorang entrepreneur untuk memahami dua elemen penting dalam
bisnis yaitu bisnis dan pelanggan. Entrepreneur memiliki obsesi untuk
menawarkan produk yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan
pelanggan.
- Keuletan meskipun menghadapi kegagalan.
Kegagalan adalah hal yang biasa dalam
berbisnis, apalagi jika entrepreneur memulai bisnisnya yang baru.
Beberapa jenis usaha membutuhkan serangkaian eksperimentasi sebelum
sukses diraih. Kegagalan dan kemunduran menjadi bagian dari proses yang
mesti dihadapi. Entrepreneur sukses memiliki keuletan dan kegigihan
untuk menghadapi situasi tersebut.
- Kepandaian dalam eksekusi.
Bisnis yang sukses tak lepas dari
kepandaian entrepreneur mengimplementasikan berbagai rencananya ketika
usaha mulai berjalan. Pepatah China kuno menyatakan bahwa “memuka sebuah
bisnis adalah mudah, tapi untuk membuatnya terus buka, adalah sulit.
Entrepreneur harus dapat memadukan berbagai aktivitas: mengeksekusi ide
menjadi model bisnis yang riil, membangun kebersamaan tim, membangun
kemitraan, mengelola keuangan, memimpin, memotivasi karyawan dan
sebagainya.
(Wijatno,S. 2009, Pengantar Entrepreneurship, Jakarta, PT Gramedia Widiarsarana.)
Berangkat dari semua teori tentang
karakteristik wirausahawan di atas, konsep karakteristik wirausahawan
yang menjadi pemahaman dalam penelitian ini adalah ciri mentalitas
khusus berupa kemampuan, kecenrendungan, sifat, perilaku, dan habit yang
mempengaruhi orientasi individu terhadap wirausaha, dan mendukung
kegiatan, kelancaran, serta keberhasilan dalam berwirausaha. Dari sekian
banyak karakteristik wirausahawan yang diungkapkan para ahli tersebut
diatas, yaitu kepercayaan diri, terobsesi oleh peluang, toleransi
terhadap resiko, serta kreatifitas dan inovasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar